Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi yang kaya akan tradisi lisannya. Tradisi lisan dalam kajian antropologi dikenal sebagai folklore yang terdiri dari beberapa jenis seperti: ungkapan atau pribahasa, teater rakyat, dongeng, legenda, puisi rakyat, teka-teki tradisional, dan sebagainya.
Contoh ungkapan atau peribahasa masyarakat Batak yang berhubungan dengan nilai-nilai etika adalah sebagai beriku:
Bulung ni bulu
di parigatrigat halak
molo so adong uhummu
tibu ma ho ditadingkon halak
(Daunnya bambu
di cabik-cabik orang
kalau tidak ada kejujuranmu
segeralah engkau ditinggalkan orang)
Ungkapan tradisional masyarakat Batak yang bermakna “daun bambu dibelah-belah orang, kalau tidak ada kejujuranmu, engkau akan segera ditinggalkan orang” ini diucapkan orang sebagai nasehat bahwa orang yang tidak mempunyai kejujuran akan segera disingkirkan orang dari pergaulan sosial. Ungkapan ini biasanya diucapkan pada pertemuan keluarga, atau pertemuan antara anak muda dengan orang tua atau yang dituakan. Penyampai ungkapan ini biasanya seorang laki-laki atau perempuan tua atau siapa saja yang kedudukan sosialnya lebih tinggi dari orang yang menjadi sasaran pembicaraannya. Bila dikaji lebih mendalam, maka bambu dengan daunnya (bulu dengan bulungnya) melambangkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi penghuni desa sebagaimana fungsi bambu adalah memberi perlindungan terhadap serangan musuh dari luar desa dan juga dengan daunnya yang rimbun akan memberikan kehangatan bagi penghuni desa dari tiupan angin. Tetapi bila daun bambu sudah gugur dan jatuh ke tanah benda ini tidak berfungsi lagi seperti sedia kala, maka orang akan memijak-mijaknya, mengoyak-oyakannya, dicabik-cabik (diparigat-rigat). Hal ini melambangkan orang yang tidak mempunyai kejujuran (uhum) ke mana pun selalu disingkirkan orang. Sebaliknya kalau jujur akan selalu dihargai orang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang jujur mendapat kedudukan yang tinggi dalam pelapisan masyarakat pendukungnya.
Aek godang do, aek laut,
dos ni roha do, si bahen na saut
(Air besarlah, air laut,
samanya hatilah, pembuat yang jadi)
Ungkapan yang berasal dari masyarakat Batak ini bermakna "air sungai adalah air laut, kesepakatan hati membuat sesuatu terlaksana" yang diucapkan untuk menunjukkan bahwa hasil musyawarah dan mufakat merupakan nilai yang tinggi dalam setiap kerja adat. Ungkapan ini sering muncul dalam setiap musyawarah adat misalnya dalam menetapkan prosedur pembicaraan serta pembagian jambar yakni bagian tertentu dari hewan yang disembelih sebagai makanan adat (na margoar).
Ungkapan ini sering muncul sebagai suatu pembelaan terhadap pelaksanaan adat yang ingin dilaksanakan secara praktis dan ringkas sehingga tidak terlalu banyak menyita waktu. Umumnya ungkapan ini diucapkan oleh seorang yang berpikiran maju dalam arti ingin merombak adat yang usang dengan tidak keluar dari prinsip adat. Bila dikaji lebih dalam, aek godang dan aek laut mempunyai arti simbolik. Aek godang berasal dari beberapa mata air yang kecil yang mengalir ke tempat yang rendah (holbung), Walaupun air tersebut sedikit tetapi mereka mempunyai satu tujuan dan kelihatannnya mengalir lancar sampai ke satu kumpulan air yang disebut dengan aek godang (sungai). Beberapa aek godang terus mengalir ke satu muara yang disebut aek laut. Dengan demikian mata air yang kecil melambangkan individu yang mempunyai pendapat atau ide serta kekuatan-serta yang dipadukan untuk sampai satu tujuan yakni terlaksananya suatu kerja besar untuk kepentingan bersama yang dilambangkan dengan aek godang dan aek laut.
Adang ni halak tarida
Adangniba inda diida
(Pagar dari orang lain kelihatan
Pagar sendiri tidak tampak)
Ungkapan ini bermakna “pagar orang lain dengan mudah kita lihat, akan tetapi pagar sendiri tidak nampak oleh kita sendiri”. Andang ialah pagar yang dibuat untuk melindungi pekarangan rumah. Oleh karena dekat kadang-kadang pagar kita tidaklah selalu kita perhatikan betul-betul. Akan tetapi biasanya pandangan selalu lebih dulu melihat pagar orang lain bagaimana bentuk dan warnanya. Memang hal ini dapat dirasakan sendiri. Pada anggota masyarakat yang terlibat dalam persoalan, selalu menyatakan kebenarannya serta memperburuk sesamanya. Sulit rasanya menyatakan siapa yang salah dan benar, oleh karena masing-masing pihak melihat kesalahan lawannya yang lebih besar, atau paling tidak menyalahkan pihak lain dalam arti keseluruhan. Ungkapan ini bertujuan agar jangan melihat kesalahan orang lain saja, perlu juga sesekali melihat kelemahan kita sendiri.
Kebo si liar liar, tergagat bulung gundur
Ola kaum terbiar biar, di katandu kin bujur
(Kerbau si jalang, termakan daun labu putih
jangan kamu kuatir, jika katamu pun jujur)
Ungkapan tradisional masyarakat Batak yang berarti “janganlah engkau kuatir jika engkau jujur” ini diucapkan kepada seseorang agar di dalam menyaksikan kebenaran jangan kuatir walaupun di sana sini ia mendapat tekanan. Ungkapan ini sering diucapkan oleh orang tua kepada anak-anaknya, atau oleh seorang guru kepada muridnya atau oleh seorang yang berasal dari kalimbubu kepada anak berunya atau oleh siapa saja yang kedudukan sosialnya lebih tinggi.
Ulang bage urupen si tangis
(Jangan bagai membantu orang menangis)
Seseorang yang menangis pada saat kemalangan biasanya membuat orang lain pun ikut menangis. Ungkapan ini ditujukan kepada orang yang selalu memerintah orang lain tetapi dia sendiri tidak ikut mengerjakan sesuatu yang seharusnya dikerjakan bersama.
Pala-pala meridi tap-tap mo
(Bila mandi haruslah basah)
Ungkapan ini mengatakan kalau sudah mandi jangan tanggung-tanggung, tetapi harus basah. Dengan demikian apabila mengerjakan sesuatu harus diselesaikan sampai selesai dan tuntas.
Ndates penagkihen, ndates ma mula ndabuh
(Tinggi panjatan, tinggi pula jika jatuh)
Jika kita memanjat lebih tinggi, semakin tinggi pula tanggung jawab, tantangan dan resiko yang harus dihadapi.
Kennah iantan sulangat merio
(Harus diketahui bahwa sulangat itu tipis)
Sulangat adalah alat penangkap ikan yang terbuat dari benang, kawat dan kasa. Ungkapan ini menyatakan agar melakukan segala sesuatu harus diukur dari kemampuam kita atau kita harus mengenal diri kita yang sebenarnya, mengerjakan sesuatu atau dalam memutuskan sesuatu yang melibatkan orang banyak, arti lainnya adalah harus tahu diri.
Tarik-tarik mengraok menjemput poda
(Hendak meraup banyak, dapat sedikit pun tidak)
Ungkapan ini ditujukan, kepada orang tamak, di mana ia mengharapkan hasil yang banyak, kedudukan yang tinggi dan keuntungan, tetapi akhirnya tidak mendapatkan hasil sedikitpun.
Mengite babah golok i terruhna ranjo
(Meniti mulut parang di bawahnya ranjau)
Mulut parang dan ranjau adalah tajam sehingga setiap orang takut menginjaknya. Ungkapan ini dikatakan kepada orang yang berbuat kesalahan besar yang sulit dimaafkan.
Ipalkah sangkalen mengena penggel
(Dipukul telanan telinga merasa)
Sangkelan adalah alat atau landasan untuk memotong, mencincang ataupun mengiris sesuatu. Ungkapan ini meminta kita untuk selalu menuruti, was-was dan tanggap terhadap nasehat yang berguna yang diberikan oleh orang yang berpengalaman seperti orang tua, abang, kakak atau pimpinan desa.
Lebbe idegger asa ndabuh
(Setelah digoyang baru jatuh)
Ungkapan ini dikatakan kepada orang yang sulit untuk mengerti atau pura-pura tidak tahu dan juga bisa dikatakan kepada seseorang yang sangat kikir. Setelah diberi isyarat tertentu atau dijelaskan secara terus terang baru mulai mengerti.
Boge pemaen buah tengnger
(Seperti menunggu jatuhnya buah tenger)
Tengnger adalah buah kayu yang walau membusuk tetapi tidak jatuh. Merupakan ungkapan yang menyatakan tidak adanya kepastian terhadap sesuatu keputusan, cita-cita dan harapan.
Oda termela-melaken cining i abe
(Untuk apa malu bekas luka di wajah)
Bekas luka di wajah tidak dapat ditutupi dan selalu dilihat orang lain. Artinya kita harus mengatakan yang sebenarnya tentang segala sesuatu atau kita harus mengakui siapa diri kita yang sebenarnya karena orang lain akan mengetahuinya juga kelak sehingga rasa malu semakin besar. Atau kiasan ini mengartikan adanya kejujuran atau keterusterangan seseorang terhadap siapa dirinya dan apa yang dilakukan.
Menencen bage basi
(Memaksa masuk seperti basi)
Basi adalah alat untuk membelah kayu. Ungkapan ini dikatakan kepada orang yang selalu memaksakan kehendaknya kepada orang lain walaupun orang lain tidak menyukainya.
Dua kali mangan mak dua kali merborih
(Dua kali makan dua kali pula cuci tangan)
Artinya seberapa kali kita berbuat sesuatu, sebegitu pula kita mempertanggungjawabkannya atau menyelesaikannya. Makna ini apabila kita memulai sesuatu tindakan maka kita pula yang harus menyelesaikan.
Tangan memenggel bara memersen
(Tangan menggotong bahu memikul)
Ungkapan ini meminta agar apa yang diperbuat harus dipertanggung jawabkan akibat yang ditimbulkan.
Soda itembak dua kena
(Satu yang ditembak dua yang kena)
Ungkapan ini menyatakan kepada awal mengerjakan sesuatu kita hanya mengharapkan hasil sedikit atau satu, tetapi kenyataannya akibat perbuatan kita tersebut dapat mendatangkan hasil yang melimpah atau berkelanjutan.
Nggeddang ipantik, nggedang persanen
(Panjang dipotong, panjang dipikul)
Segala perbuatan kita harus dipertanggungjawabkan akibatnya baik yang positif maupun negatif. Bisa juga dikatakan kepada seseorang pekerja keras yang berakibat kepada perolehan hasil yang banyak.
Tunnande ikayu temmes
(Bersandar di kayu kokoh)
Artinya apabila kita ingin meminta pertolongan haruslah kepada orang yang dapat memberikannya misalnya orang bijak, kaya, terpandang, berperilaku adil dan pintar, sesuai jenis bantuan yang kita harapkan, sesuai jenis pertolongan yang dibutuhkan.
Kubettoh kin nggatel gurungmu
(Aku tak tahu gatal punggungmu)
Ungkapan ini dikatakan kepada orang yang tidak mau berterus terang kepada orang lain, dimana orang lain tidak mengetahui keinginannya. Bila butuh sesuatu dari orang lain tetapi tidak pernah meminta dan berterus terang sehingga orang lain tidak tahu, maka akibatnya tidak memperoleh apapun.
Ulang tunande ikayu buruk
(Jangan bersandar di kayu rapuh)
Ungkapan ini ditujukan kepada seseorang yang meminta pertolongan kepada orang yang lebih miskin, lebih tidak berdaya, sehingga perbuatan ini selain tidak layak juga dianggap menghina.
Simengkaisken api i gurungna nai
(Menepis api dari punggungnya masing-masing)
Ungkapan ini mengajarkan seseorang mandiri dalam hidup. Jadi idealnya seseorang harus mencoba bertanggung jawab dalam segala masalah terlebih dahulu tanpa meminta bantuan orang lain
I terruh tangan mengido
(Tangan meminta ada di bawah)
Ungkapan ini mengartikan bahwa bila kita atau seseorang meminta atau mengharapkan bantuan orang lain maka harus sopan dan rendah hati.
Adong do manuk mira
Potek-potek manuk kelabu
Tua ni namarina
Manjou-jou sian jabu
(Ada nya ayam jantan
Berkotek-kotek ayam kelabu
Untungnya yang beribu
Memanggil-manggil dari rumah)
Ungkapan ini sering juga diucapkan seorang anak ketika ibunya meninggal. Orang Batak memiliki kebiasaan mengandung (meratap sedih) bila ibunya meninggal. Andung adalah ratapan seseorang yang bersifat puitis dalam peristiwa kematian. Ungkapan ini diucapkan untuk menggambarkan betapa senang dan bahagianya dia semasa ibunya masih hidup dan hal ini tidak akan ditemuinya lagi sepeninggal ibunya. Beruntung yang masih punya ibu, ada yang memanggil-manggil kita dari rumah. Hal ini juga merupakan pesan kepada orang lain, terutama khalayak ramai yang datang melayat, agar mereka selalu patuh dan menghormati orang tuanya. Penyampai ungkapan ini adalah seorang anak atau juga boleh orang tua (laki/perempuan) dalam rangka menasehati anak-anaknya.
Orang Batak memiliki disiplin yang ketat dalam keluarga, di mana bila seluruh anggota keluarga harus berkumpul biasanya seorang ibu akan memanggil anak-anaknya dari rumah sehingga digambarkan pada ungkapan di atas manjou-jou sian jabu (memanggil-manggil dari rumah). Seorang ibu juga selalu memanggil anak-anaknya dalam rangka mengawasi mereka agar tidak pergi jauh bermain dari rumah. Keseluruhan hal ini menggambarkan betapa sayangnya seorang ibu terhadap anak-anaknya. Dengan demikian ungkapan ini menghimbau pendukungnya agar mereka selalu menghormati orang tuanya, karena alangkah sedih dan susahnya dirasakan bila tidak memiliki orang tua lagi.
Sadao obok-obok,
Mulak-mulak tu tano
(Sejauh-jauh lemparan,
akhirnya kembali ke tanah)
Ungkapan ini menasehatkan kepada orang agar tidak melupakan asal-usulnya, walau pergi jauh hendaknya tetap ingat pada keluarga dan masyarakatnya, atau walaupun memiliki kedudukan yang tinggi harus sadar bahwa karena dapat saja tiba-tiba mengalami kejatuhan dari kedudukannya itu.
Demikian sebagian ungkapan atau pribahasa yang dikenal dalam masyarakat Batak yang umumnya tidak terlepas dari lingkungan alam, aktifitas sehari-hari dan aktifitas adat istiadat lainnya. Ungkapan atau peribahasa yang selalu digunakan dalam berbagai aktifitas kehidupan sosial berperan sebagai salah satu kontrol sosial, baik dalam lingkungan keluarga maupun sebagai anggota masyarakat.
Daftar Pustaka:
Berutu, Lister, Memahami 100 Perumpamaan Pakpak di Sumatera Utara, PT Grasindo Monoratama, Medan, 2006
---------------, Ungkapan Tradisional Sebagai Sumber Informasi Kebudayaan Daerah Sumatera Utara, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1984
Tidak ada komentar:
Posting Komentar